Tokoh pahlawan Melayu Riau sebenarnya ada banyak.
Khusus untuk yang mendapatkan gelar pahlawan nasional sendiri ada dua, yakni
Sultan Syarif Qasim II yang berasal dari Siak Sri Indrapura dan
Tuanku Tambusai yang berasal dari Rokan Hulu.
Adapun saat ini banyak dari kita yang melupakan
para pahlawan Melayu Riau yang tak kalah heroiknya dibandingkan Sultan
Syarif Qasim II dan Tuanku Tambusai.
Mereka adalah Hang Tuah, Tengku Sulung dari
Reteh, Indragiri Hilir, Raja Ali Haji ‘Gurindam 12’ dari Kepulauan Riau, Raja
Haji Fisabilillah dari Dabo, Singkep, Lingga, Datuk Tabano dari Kampar dan
masih banyak lagi.
1.HANG TUAH
Hang Tuah adalah
seseorang pahlawan serta tokoh legendaris Melayu pada masa pemerintahan
Kesultanan Malaka abad ke-15. Ia dikenal sebagai seorang pelaut miskin dengan
pangkat laksamana dan juga petarung yang hebat, baik di laut maupun di daratan.
Hang Tuah bersama dengan rekan seperjuangan,
Hang Jebat, Hang Nadim, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu berhasil
membunuh para bandit dan dua orang yang berjaya menghancurkan desa dengan
amarahnya.
Karena kehebatannya tersebut, Bendahara (Perdana
Menteri, red) dari Melaka mengambil mereka berempat untuk bekerja di
istana.
Hang Tuah juga terkenal karena berhasil membunuh
Taming Sari, seorang jawara yang jago berkelahi, kebal senjata dan dapat
menghilang. Ia berasal dari pemerintahan Kerajaan Majapahit.
Setelah membunuh Taming Sari, lalu Hang
Tuah mengambil kerisnya dan diberi nama Taming Sari. Keris tersebut diceritakan
dapat membuat pemiliknya memiliki kesaktian menjadi hilang.
2.TENGKU SULUNG
Merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang
melawanan kolonial Belanda di daerah Reteh, Sungai Batang. Ia diperkirakan
lahir di Lingga, Kepulauan Riau.
Sejak Kecil, dididik dengan ajaran Islam yang
ketat. Karena itu membuatnya tidak suka dengan Belanda dan tidak mau
bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Tengku Sulung menjadi Panglima Besar Reteh
setelah Sultan Muhammad, Sultan Lingga yang berkuasa di Reteh. Kemudian
ia membangun Benteng yang kelak ditandai dengan adanya Desa Benteng,
Sungai Batang, Indragiri Hilir di Hulu Sungai Batang.
Benteng tersebut menjadi pertahanan Tengku Sulung
bersama pasukannya dalam melawan Belanda. Akhirnya perjuangan Tengku Sulung dan
pasukannya berhenti setelah Belanda membawa Haji Muhammad Thaha, juru tulis
Tengku Sulung yang telah ditangkap Belanda di Kotabaru.
Ia diultimatum oleh Residen Belanda agar
menyerah kepada Komandan Ekspedisi. Pada penyerangan 7 November 1858 yang
banyak menewaskan rakyat Reteh, Tengku Sulung juga ikut tertembak di leher oleh
pasukan Belanda.
Raja Haji Fisabilillah dikenal sebagai salah
satu tokoh pahlawan yang diabadikan menjadi nama bandar udara di Tanjung
Pinang, yakni Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.
Ia lahir di Kota Lama, Ulusungai, Riau, pada
tahun 1725 dan wafat di Ketapang, 18 Juni 1784. Beliau dimakamkan di Pulau
Penyengat, Indera Sakti, Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.
Selain melawan pemerintahan Belanda, Raja Haji
Fisabilillah juga berhasil membangun pulau Biram Dewa di sungai Riau Lama.
Ia dijuluki sebagai Pangeran Sutawijaya (Panembahan Senopati) di Jambi,
karena keberaniannya.

Raja Ali Haji
bin Raja Haji Ahmad atau yang lebih dikenal dengan nama penanya, yakni
Raja Ali Haji, merupakan seorang ulama, sejarawan, dan pujangga abad ke-19
keturunan Bugis dan Melayu.
Raja Ali Haji lahir di Selangor, Malaysia,
tahun 1808 dan meninggal di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, tahun
1873. Ia merupakan cucu dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda
IV dari Kesultanan Lingga.
Raja Ali Haji dikenal sebagai pencatat pertama
dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa yang menjadi standar
bahasa Melayu. Kemudian standar bahasa Melayu itulah yang ditetapkan sebagai
bahasa nasional, bahasa Indonesia, dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober
1928.
Adapun mahakaryanya, Gurindam Dua Belas (1847),
menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Selain itu, Kitab Pengetahuan
Bahasa, Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama,
merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara.
Syair Siti Shianah, Suluh Pegawai, Hukum Nikah,
dan Sultan Abdul Muluk, Tuhfat al-Nafis (“Bingkisan Berharga” tentang sejarah
Melayu), Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik), merupakan hasil karyanya.
Atas hasil-hasil karyanya tersebut, Raja Ali
Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Tak hanya
aktif menulis, ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan.
Pada 5 November 2004 yang lalu, Raja Ali Haji
ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia menjadi pahlawan nasional.
TUANKU Tambusai adalah salah seorang pejuang tangguh dalam
sejarah negeri ini. Berikut kisah perjuangan Pahlawan Nasional ini.
Tuanku Tambusai lahir di Dalu-dalu, Nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau, 5 November 1784. Dalu-dalu merupakan salah satu desa pedagang Minangkabau yang didirikan di tepi Sungai Sosah, anak Sungai Rokan.
Nama kecilnya, Muhammad Saleh. Dia anak dari pasangan perantau Minang, Tuanku Imam Maulana Kali, ada juga yang menulis Imam Maulana Kadhi, dan Munah.
Ayahnya berasal dari Nagari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai, ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat.
Ibunya berasal dari Nagari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh. Sesuai dengan tradisi Minang yang matrilineal, suku ini diturunkannya kepada Tuanku Tambusai.
Sewaktu kecil, Muhammad Saleh diajarkan ilmu bela diri, ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara. Semua itu diajarkan ayahnya.
Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Di sana, dia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi (Padri).
Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Ajaran itu dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam, mengantarkannya untuk berperang mengislamkan masyarakat di tanah Batak yang masih banyak menganut pelebegu.
Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823.
Menurut pemerhati sejarah dari STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh Fikrul Hanif Sufyan, Christine Dobbin dalam "Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847" menyebut bahwa pemuda Tambusai yang berumur 15 tahun dan banyak belajar dari ulama Paderi itu ikut angkat senjata melawan tentara kompeni sampai ke wilayah Natal pada tahun 1823.
Setahun setelahnya, Tuanku Tambusai didaulat sebagai pemimpin pasukan di Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, dan Mandailing.
Dalam usia yang belia itu, menurut Mahidin Said dalam "Tuanku Tambusai Berjuang", Tuanku Tambusai dan pasukannya berhasil mengancurkan benteng Belanda Fort Amerongen. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda direbut kembali.
Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga melawan pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo, yang berpihak kepada Belanda.
Tuanku Tambusai lahir di Dalu-dalu, Nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau, 5 November 1784. Dalu-dalu merupakan salah satu desa pedagang Minangkabau yang didirikan di tepi Sungai Sosah, anak Sungai Rokan.
Nama kecilnya, Muhammad Saleh. Dia anak dari pasangan perantau Minang, Tuanku Imam Maulana Kali, ada juga yang menulis Imam Maulana Kadhi, dan Munah.
Ayahnya berasal dari Nagari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai, ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat.
Ibunya berasal dari Nagari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh. Sesuai dengan tradisi Minang yang matrilineal, suku ini diturunkannya kepada Tuanku Tambusai.
Sewaktu kecil, Muhammad Saleh diajarkan ilmu bela diri, ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara. Semua itu diajarkan ayahnya.
Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Di sana, dia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi (Padri).
Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Ajaran itu dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam, mengantarkannya untuk berperang mengislamkan masyarakat di tanah Batak yang masih banyak menganut pelebegu.
Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823.
Menurut pemerhati sejarah dari STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh Fikrul Hanif Sufyan, Christine Dobbin dalam "Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847" menyebut bahwa pemuda Tambusai yang berumur 15 tahun dan banyak belajar dari ulama Paderi itu ikut angkat senjata melawan tentara kompeni sampai ke wilayah Natal pada tahun 1823.
Setahun setelahnya, Tuanku Tambusai didaulat sebagai pemimpin pasukan di Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, dan Mandailing.
Dalam usia yang belia itu, menurut Mahidin Said dalam "Tuanku Tambusai Berjuang", Tuanku Tambusai dan pasukannya berhasil mengancurkan benteng Belanda Fort Amerongen. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda direbut kembali.
Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga melawan pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo, yang berpihak kepada Belanda.
https://daerah.sindonews.com/read/1066570/29/kisah-perjuangan-tuanku-tambusai-harimau-paderi-dari-rokan-1449139019





Tidak ada komentar:
Posting Komentar